# nilai-nilai Luhur Pencak silat #



( Indonesia )

pencak silat mulai berkembang luas dikenal di Indonesia, bahkan mulai
berkembang luas ke Negara tetangga yang berbangsa melayu.

Pencak silat berasal dari dua suku kata yaitu pencak dan silat
Pencak berarti gerakan dasar beladiri yang terkait pada peraturan. Silat


mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau keselamatan bersama, menghindarkan diri/manusia dari bala atau bencana (perampok, penyakit, tenung dan segala sesuatu yang jahat atau merugikan masyarakat). Dalam perkembangnya kin istilah pencak lebih

mengedepankan unsur seni dan penampilan gerakan keindahan gerakan,
sedangkan silat adalah inti ajaran beladiri dalam pertarungan. Muryono
(1999) menyimpulkan bahwa yang menjadi kriteria untuk membedakan arti


Pencak dan arti Silat adalah apakah sebuah gerakan itu boleh dipertontonkan atau tidak
Istilah pencak silat sebagai seni beladiri bangsa Indonesia, merupakan kata majemuk adalah hasil keputusan seminar pencak silat tahun 1973 ditugu Bogor. Pencak silat adalah hasil budaya manusia


indonesia untuk membela /mempertahankan aksistensi (kemandirian) dan

integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa( PB IPSI bersama BAKIN, 1975). Kata Pencak maupun Silat sama-sama mengandung pengertian kerohanian, irama, keindahan, kiat, maupun


praktek, kerja, atau aplikasinya.
Notosoejitno (2011) menyatakan bahwa dilihat dari sosok profil
atau tampilan pencak silat di Indonesia ada tiga, yaitu:


1. Pencak silat asli (original), ialah pencak silat yang berasal dari lokal dan masyarakat etnis di Indonesia,


2. Pencak silat bukan asli yang sebagian besar dari kungfu, karate, dan Jujitsu.


3. Pencak silat campuran, ialah campuran antara pencak silat asil dan beladiri asing (beladiri asing yang ingin bergabung dengan nama pencak silat sesuai peraturan).


PEMBAHASAN


Seiring berkembangnya jaman kini pencak silat telah menjadi budaya Indonesia. Dan menjadi karakteristik masyarakat kita, barang tentu akan menjadi salah astau unsur perekat bangsa untuk bersatu dan mengangkat harkat, derajat, dan martabat bangsa Indonesia dimata dunia

Berbanding terbalik dengan harapan pencak silat, bangsa Indonesia dewasa ini mengalami berbagai macam krisi baik ekonomi, politik, hokum dan moral. Bila kita cermati secara kritis moral merupakan hal yang paling urgen untuk kita perhatikan Moral merupakan aset pembangunan bangsa, hari ini sudah mulai kehilangan arah karakter yang


sesuai dengan kondisi bangsa, Arya Ginanjar (2008) mengatakan bahwa


krisis moral dalam masyarakat antara lain ditandai oleh: 1) hilangnya kejujuran, 2) hilangnya rasa tanggungjawab, 3) tidak mampu berpikir jauh kedepan (visioner), 4) rendahnya disiplin, 5) Krisi kerja sama, 6)Krisis keadilan, dan 7) Krisis kepedulian. Keadaan ini secara otomatis


menghilangkan jiwa sportivitas, kejujuran, kepercayaan diri, sikap toleransi antar manusia, serta saling menghargai juga hilang. Yang artinya
manusia sudah tidak mampu introspeksi diri, mengakui kesalahan dan tidak dapat bersosialisasi dengan baik terhadap orang lain.


Kenyataan diatas menujukkan bahwa sebagian besar masyarakat
Indonesia masih belum memiliki karakter yang menuju moral yang positif.
Maka dalam rangka membangun sumber daya manusia Indonesia harus


terus ditingkatkan melalui pendidikan, diantaranya melalui bidang
olahraga. Karena olahraga dapat berfungsi sarana untuk 1) penyaluran
emosi, 2) penguatan identitas, 3) kontrol sosial, 4) sosialisasi, 5) agen perubahan, 6) penyaluran kata hati, 7) mencapai keberhasilan (Wuest and Bucher, 1995). Dengan kata lain kegiatan olahraga dapat membentuk molarilatas bangsa Indonesia dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik


Nilai-Nilai Luhur dalam Pencak Silat

Nilai luhur dalam pencak silat dikembangkan empat aspek dalam satu kesatuan yaitu: aspek spiritual, aspek seni gerak, aspek beladiri, dan aspek olahraga. Dalam empat aspek tersebut terdapat makna yang


terkadung didalamnya. Adapun makna yang terkandunga adalah
pengendalian diri, gerakan seni, dan sportifitas. Dengan pengamalan
tersebut maka pemebentukan moralitas bangsa dapat ditingkatkan
dengan ikut aktif kegiatan olahraga, khususnya olahraga pencak silat.


1. Aspek Pengembangan Mental Spiritual


Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semedi, tapa atau


aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tinggi ilmunya (Bila dilihat


zaman dahulu)


Saat ini pengembangan aspek spiritual dalam pencak silat yang harus diajarkan adalah pengembangan aspek mental. Adapun aspek mental sebagai berikut:


a. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur. Yang artinya seorang pesilat berkewajiban melaksanakan segala perintah


dan menjahui larangan agama. Selain itu seorang pesilat berbudi
luhur dengan menghormati orang tua dan berperilaku sopan santun
dalam pergaulan serta cinta Tanah Air dan Bangsa.


b. percaya diri, tenggang rasa dan disiplin yang artinya seorang


pesilat berkewajiban tidak bertindak sewena-wena, suka menolong,
berani dan tabah menjalani tantangan hidup, tidak putus asa dan
patuh pada norma-norma yang mengatur kehidupan.


C. persaudaraan, pengendalian diri dan tanggung jawab sosial yang


artinya seorang pesilat menjalani kerukunan, gotong royong.
keselarasan hidup dalam masyarakat, mampu mengatasi masalah

dengan musyawarah, dan menempatkan kepentingan umum diatas
kepentingan pribadi dan golongan


2. Aspek pengembangan seni budaya.


Aspek seni diharapkan seorang pesilat memiliki keterampilan gerak yang serasi dan menarik. Mengembangkan pencak silat sebagia budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan luhur, guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa nasionalisme dan memperkokoh persatuan. Serta mampu menyaring nilai-nilai budaya asing yang negative dan menyerap nilai yang positif guna


perbaharuan dalam proses pembangunan


3. Aspek pengembangan beladiri


Pengembangan aspek beladiri artinya bahwa pesilat harus terampil dalam melakukan gerakan secara efektif dan efisien untuk menjamin kesiapan fisik dan mental, yang dilandasi sikap kesatria, tanggap, dan kemampuan mengendalikan diri. diharapkan seorang


memiliki kewajian untuk: 1) berani menegakkan kejujuran 2) tahan ujian dan godaan dalam menghadapi cobaan, 3) tangguh dan ulut


dalam meraih cita-cita dan usaha, 4) tanggap, cermat, cepat dan tepat


dalam mengahadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan, 5)


selalu melaksanakan Ilmu Padi Tidak sombong dan takabur.6)


mengunakan keahlian perkelahiannya hanya dalam keadaan terpaksa untuk keselamatan diri dan menjaga harga diri.


4. Aspek pengembangan olahraga.


Aspek olahraga diharapkan seorang pesilat mempunyai keterampilan


gerak untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kematangan rohani yang dilandaskan pada hidup sehat. Maka pesilat harus memiliki


kesadaran untu: 1) berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat


sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. 2) selalu menyempurnakan prestasi jika latihan dan pelaksanaan olahraga tersebut terbentuk


pertandingan. 3) menjunjung tinggi spotifitas (M.Atok Iskandar, dkk, 1992). Sifat dan sikap ideal tersebut sebagai satu kesatuan dapat diringkas sebagai sifat dan taqwa, tanggap, tangguh, tangon, dan


trengginas


Sifat dan sikap ideal sebagai materi pendidikan yang terkandung dalam empat aspek sebagai satu kesatuan adalah nilai-nilai luhur pencak silat dan merupakan penjabaran Pancasila. Dapat dikatan tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan pencak silat adalah untuk


membentuk manusia seutuhnya yangberlandasan pada pancasila dan UUD 1945.


Nilai Positif Pencak Silat Olahraga pencak silat selain memiliki nilai-nilai luhur, pencak silat juga memiliki nilai positif didalamnya. Berikut adalah beberapa nilai positif yang dipeloleh dalam olahraga beladiri pencak silat yaitu:


1. Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa


2. Cinta Tanah Air dan Bangsa


3. Kesehatan dan kebugaran


4. Membangkitkan rasa percaya diri


5. Melatih ketahanan mental


6. Mengembangkan kewaspadaan diri yang tinggi


7. Membina spotifitas dan jiwa ksatria


8. Disiplin dan keuletan yang lebih tinggi


Pencak silat memiliki peranan cukup penting dalam meningkatkan


sikap, mental dan kualitas generasi muda. Hal ini tentu saja akan terkait dengan tujuan pengembangan generasi muda yang berkesinambungan, sehingga pencak silat menjadi suatu peluang bagi lembaga-lembaga pendidikan untuk ikut membantu meningkatkan kualitas peserta didik


melalui pelatihan sikap mental dan kedisiplinan sehingga akan mencetak


generasi muda yang berjiwa ksatria


Sebagai refleksi dari nilai-nilai masyarakat, pencak silat merupakan sebuah sistem budaya yang saling mempengaruhi dengan alam


dilingkungannya dan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Bila
pada tingkat perseorangan pencak silat membina agar manusia biasa


menjadi teladan yang mematuhi norma-norma masyarakat, sedangakn
pada tingkat kelompok atau aliran pencak silat bersifat kohensif yang dapat merangkul individu-individu dan meningkatkan persaudaran dalam hidup bersosial


KESIMPULAN


Pencak silat merupakan salah satu olahraga tradisional bangsa


Indonesia yang harus dilestarikan Pengertian pencak silat memiliki suatu
pengertian yang sangat luas dan memiliki fungsi yang jelas, diantaranya
adalahbahwa pencak silat sebagai alat untuk beladiri, sebagai wahana
spiritual, sebagai pertunjukan atau kesenian, dan sebagai sarana untuk


membela bangsa nilai-nilai positif yang terkadung dalam pencak silat, yaitu : 1) Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2) Cinta Tanah Air dan Bangsa, 3) Kesehatan dan kebugaran, 4)


Membangkitkan rasa percaya diri, 5) Melatih ketahanan mental. 6) Mengembangkan kewaspadaan diri yang tinggi, 7) Membina spotifitas dan jiwa ksatria, 8) Disiplin dan keuletan yang lebih tinggi. Secara keseluruhan pencak silat mengajarkan sifatdan sikap taqwa, tanggap, tangguh,


tanggon dan trengginas.


DAFTAR PUSTAKA


Ginanjar, Arya 2008. Pembentukan Habit Menerapkan Nilai-Nilal Religius Sosial, dan Akademik 29-31 juli 2008. Semiloka Pendidikan Karakter. Yogyakarta; UNY.

M., Saleh. 1991. Pencak Silat (Sejarah Perkembangan, Empat Aspek, Pembentukan Sikap dan gerak) Bandung: KIP

Maryono, O'ong. 2000. Pencak Silat: Merentang waktu Yogyakarta Galang P M. Atok Iskandar, dkk. 1992. Pencak Silat Jakarta: Dirjen Dikti Departemen P dan K.

Subroto, Joko, dan Moh. Rohadi, 1996. Kaidah-kaidah Pencak Silat Seni Yang Tergabung dalam IPSI. Solo; CV Aneka Wuest, Deborah A., And Bucher, Charles A. 1995. Foundation of Physical Education and sport, 12 ed. St. Louis, Missouri: Mosby-Year Bool, Inc







( English )

pencak silat began to develop widely known in Indonesia, even starting
expanding to neighboring countries with Malay nation.
Pencak silat comes from two syllables namely pencak and silat
Pencak means the basic movements of martial arts related to regulations. Silat


have a perfect sense of self-defense that is based on pure pure spirituality, for personal safety or mutual safety, to avoid oneself or humanity from disaster or disaster (robbers, diseases, witchcraft and everything that is evil or detrimental to society). In the development of the term pencak more kin


put forward the elements of art and the appearance of the movements of the beauty of the movement,


while silat is the core of martial arts teachings in battle. Muryono


(1999) concluded that the criteria for differentiating meaning


Pencak and the meaning of Silat is whether a movement can be exhibited or not


The term pencak silat as an Indonesian martial art, is a compound word is the result of a 1973 pencak silat seminar decision in Bogor monument. Pencak silat is the result of human culture


Indonesia to defend / maintain consistency (independence) and


its integrity (manunggalnya) to the environment in order to increase faith and piety in God Almighty (PB IPSI with BAKIN, 1975). The word Pencak and Silat both contain an understanding of spirituality, rhythm, beauty, tips, as well


practice, work or application.


Notosoejitno (2011) states that seen from the profile figure


or the appearance of pencak silat in Indonesia, there are three, namely:


1. Original pencak silat (original), is a martial arts originating from local and ethnic communities in Indonesia,


2. Pencak silat is not original, mostly from martial arts, karate, and Jujitsu.


3. Mixed martial arts, is a mixture between original and foreign martial arts (foreign martial arts who want to join the name of martial arts according to the rules).


DISCUSSION


Along with the development nowadays, pencak silat has become Indonesian culture. And a characteristic of our society, of course it will be an element of the nation's glue to unite and raise the dignity, status and dignity of the Indonesian people in the eyes of the world


Inversely proportional to the expectations of pencak silat, the Indonesian nation today experiences various kinds of economic, political, legal and moral crises. If we look critically morally is the most urgent thing for us to pay attention to Moral is an asset of national development, today has begun to lose the direction of character that


according to the condition of the nation, Arya Ginanjar (2008) said that


moral crisis in society is characterized by: 1) loss of honesty, 2) loss of sense of responsibility, 3) not being able to think far ahead (visionary), 4) lack of discipline, 5) Krisi cooperation, 6) Crisis of justice, and 7) Crisis of concern. This situation automatically


eliminating sportsmanship, honesty, self-confidence, tolerance between humans, and mutual respect are also lost. Which means


humans are not capable of self-introspection, admitting mistakes and unable to socialize well with others.


The facts above show that most of the people


Indonesia still does not have the character that leads to positive morals.


So in order to build Indonesian human resources must


continuously improved through education, including through the field


Sports. Because sports can function as a means for 1) distribution


emotions, 2) strengthening of identity, 3) social control, 4) socialization, 5) agents of change, 6) distribution of conscience, 7) achieving success (Wuest and Bucher, 1995). In other words sports activities can shape the molarity of the Indonesian people and improve a better quality of life


Values ​​in Pencak Silat


Noble values ​​in pencak silat were developed in four aspects in one unit, namely: spiritual aspects, aspects of the motion arts, aspects of martial arts, and aspects of sports. In these four aspects there are meanings


contained in it. The meaning of the contained is


self-control, art movements, and sportsmanship. With practice


the formation of national morality can be improved


by actively participating in sports activities, especially pencak silat.


1. Aspects of Spiritual Mental Development


Pencak silat builds and develops the personality and noble character of a person. The warriors and masters of ancient martial arts teachers often have to go through the stages of meditation, penance or


other aspects of mysticism to reach a high level of knowledge (when seen

ancient time)


At present the development of spiritual aspects in pencak silat that must be taught is the development of mental aspects. The mental aspects are as follows:


a. devoted to God Almighty and virtuous. Which means a fighter is obliged to carry out all orders


and recognize religious prohibitions. In addition, a virtuous fighter


noble by respecting parents and behaving politely


in association and love for the country and the nation.


b. self confidence, tolerance and discipline which means a person


the fighter is obliged not to act arbitrarily, likes to help,
brave and brave live the challenges of life, not despair and
obey the norms that govern life


C. brotherhood, self-control and social responsibility


it means a fighter undergoing harmony, mutual cooperation.
harmony of life in society, able to overcome problems
with deliberations, and placing public interests above
personal and group interests


2. Aspects of developing arts and culture.


Art aspect is expected by a pesilat to have harmonious and interesting movement skills. Developing pencak silat as a culture of the Indonesian people that reflects the noble, in order to strengthen the nation's personality, strengthen nationalism and strengthen unity. As well as being able to filter out negative cultural values ​​and absorb positive values ​​of use


renewal in the development process


3. Martial arts development aspects


The development of the martial arts aspect means that the fighter must be skilled in effective and efficient movements to ensure physical and mental readiness, which is based on the attitude of the knight, responsiveness, and self-control ability. one would expect


have the authority to: 1) dare to uphold honesty 2) stand the test and temptation in facing trials, 3) tough and tough


in achieving goals and efforts, 4) responsive, careful, fast and precise


in facing and solving a problem, 5)

always carry out Rice Science Not arrogant and arrogant. 6)

use his fighting skills only when forced to safety and maintain self-esteem.


4. Aspects of sports development.


Aspects of sports are expected to have a fighter skill


movement to increase physical fitness and spiritual maturity based on healthy living. Then the fighter must have


awareness to: 1) practice and carry out martial arts sports


as part of everyday life. 2) always perfect the achievements if the exercise and implementation of the sport are formed


competition. 3) upholds the effectiveness (M. Atok Iskandar, et al, 1992). These ideal traits and attitudes as a whole can be summarized as traits and piety, responsive, tough, tangon, and


trengginas


The nature and ideal attitude as educational material contained in four aspects as a whole are the noble values ​​of pencak silat and are the translation of Pancasila. Can be said the goals to be achieved in martial arts education is to


to form a whole person based on the Pancasila and the 1945 Constitution.


Positive Value of Pencak Silat In addition to having noble values, pencak silat also has a positive value in it. Here are some positive values ​​obtained in martial arts martial arts, namely:


1. Increase devotion to God Almighty



2. Love the Motherland and the Nation



3. Health and fitness



4. Awaken confidence



5. Practicing mental endurance



6. Developing high self-awareness



7. Fostering the character and soul of a knight



8. Higher discipline and tenacity


Pencak silat has an important role in improving


attitude, mentality and quality of the younger generation. This of course will be related to the goal of developing a sustainable young generation, so that pencak silat becomes an opportunity for educational institutions to help improve the quality of students


through mental attitude training and discipline so that it will print


a young generation with a knight spirit


As a reflection of community values, pencak silat is a cultural system that influences one another with nature


environment and can not be separated from human activity. When
at the level of individual pencak silat fostering so that ordinary people
be a role model who obeys the norms of society, while


at the group level or pencak silat flow is cohensive which can embrace individuals and increase brotherhood in social life


CONCLUSION


Pencak silat is one of the nation's traditional sports
Indonesia must be preserved Understanding of pencak silat has a

very broad understanding and has a clear function, including
is that martial arts as a tool for martial arts, as a vehicle


spiritual, as a performance or art, and as a means to


defend the nation's positive values ​​contained in pencak silat, namely: 1) Increasing devotion to God Almighty, 2) Love of the Motherland and Nation, 3) Health and fitness, 4)


Generating self-confidence, 5) Practicing mental endurance. 6) Developing high self-awareness, 7) Fostering the quality and spirit of the knight, 8) Higher discipline and tenacity. Overall pencak silat teaches the nature and attitude of piety, responsiveness, resilience,


Tanggon and Trengginas.


BIBLIOGRAPHY


Ginanjar, Arya 2008. Formation of Habit Applying Social, and Academic Religious Values ​​July 29-31 July 2008. Workshop on Character Education. Yogyakarta; UNY.


M., Saleh. 1991. Pencak Silat (History of Development, Four Aspects, Formation of Attitudes and Motion) Bandung: KIP


Maryono, O'ong. 2000. Pencak Silat: Spanning the time of Yogyakarta Galang P M. Atok Iskandar, et al. 1992. Pencak Silat Jakarta: Director General of Higher Education, Ministry of Education and Culture


Subroto, Joko, and Moh. Rohadi, 1996. The principles of Pencak Silat Art which are members of IPSI. Solo; CV Aneka Wuest, Deborah A., And Bucher, Charles A. 1995. Foundation of Physical Education and Sport, 12th ed. St. Louis, Missouri: Mosby-Year Bool, Inc

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
Post Terkait :
Pencak Silat