# SEJARAH, ETIKA DAN FILOSOFI SENI BELADIRI KARATE :: #


( Indonesia )

ABSTRAK
Ilmu beladiri dikenal sejak adanya peradaban manusia, yang pada waktu 
itu dipergunakan hanya untuk mempertahankan diri dari gangguan binatang 
buas dan alam sekitarnya. Sekarang, di samping untuk mempertahankan diri, 

beladiri digunakan sebagai alat untuk menjaga kesehatan, mencari prestasi dan 
sebagai jalan hidup. Karate-do adalah suatu seni perkasa, beladiri tanpa senjata 
yang bertujuan untuk mengatasi segala bentuk rintangan, yang dicapai dengan 
cara mengembangkan kepribadian melalui latihan-latihan tertentu. Dari sejarah 
asal mula lahirnya seni beladiri ini dapat dibayangkan betapa keras dan melalui 
rintangan yang berat untuk dapat mencapai tingkat kesempurnaan atau 

keberhasilan. Sebagai alat komunikasi dan tempat berinteraksi dengan orang 
lain, seni beladiri karate mempunyai etika dan sopan santun yang harus ditaati 
dan dilaksanakan oleh segenap anggota/orang yang ada di dalamnya. Aturan 
main, etika dan sopan santun yang terdapat dalam seni beladiri ini dibuat 
berdasarkan semangat dan filosofi yang diwariskan oleh orang-orang yang

melahirkanya. Karate-ka sejati selalu berusaha untuk dapat memahami dan 
meresapi setiap ajaran yang ada kemudian memasukanya dalam kehidupan 
sehari-hari sebagai jalan hidupnya. 
Kata kunci : Sejarah, Etika, Filosofi Karate
SEJARAH PERKEMBANGAN KARATE

Ilmu beladiri sebenarnya sudah dikenal sejak manusia ada, hal itu dapat 
dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala, diantaranya : senjata-senjata 
dari batu, lukisan-lukisan pada dinding goa yang menggambarkan pertempuran 


atau perkelahian dengan binatang buas menggunakan senjata seperti tombak, 
kapak batu, dan panah. Pada saat itu, beladiri bersifat untuk mempertahankan 
diri dari gangguan binatang buas atau alam sekitarnya. Setelah manusia 
berkembang, gangguanpun timbul tidak hanya dari binatang buas dan alam 
sekitarnya tapi juga dari manusia itu sendiri.
Setelah Sidartha Gautama, pendiri Budha wafat, para pengikutnya 
mendapat amanat untuk mengembangkan ajaran Budha ke seluruh dunia.

Karena sulitnya medan yang dilalui, para pendeta dibekali ilmu beladiri. Sekitar 
abad ke-5, seorang pendeta Budha dari India yang bernama Bodhidharma 
(Daruma Daishi), mengembara ke China untuk menyebarkan dan membetulkan 


ajaran Budha yang sudah menyimpang saat itu. Setelah ada selisih paham atau 
perbedaan pandangan dalam ajaran Budha dengan Kaisar Wu, Kaisar Kerajaan 
Liang waktu itu, Daruma Daishi kemudian mengasingkan diri di Biara Shaolin 
Tsu, di Pegunungan Sung, bagian selatan Loyang, Ibukota Kerajaan Wei. 

Daruma Daishi melanjutkan pengajaran Agama Budhanya di biara itu, yang 
kemudian merupakan cikal bakal ajaran Zen. Di samping mengajarkan agama,
beliau juga memberikan Buku Petunjuk mengenai Latihan Fisik kepada murid-
muridnya. Buku Petunjuk itu juga mengajarkan teknik-teknik pukulan, yang 
bernama 18 Arhat. Berawal dari situ biara tersebut terkenal sebagai Shaolin 
Chuan, pusat beladiri di daratan China hingga sekarang.

Pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) muncul seorang ahli beladiri yang 
sangat terkenal, yaitu Chang Sang Feng (Thio Sam Hong), yang pada awalnya 
belajar beladiri di Shaolin Tsu, kemudian mengasingkan diri di Gunung Wutang 
(Butong) dan menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya, yang 
diberi nama Aliran Wutang. Perbedaannya, Shaolin Chuan hanya dipraktekan 
dalam biara shaolin oleh para pendetanya, sedangkan Aliran Wutang

diperuntukkan kepada orang awam yang tidak ada ikatan dengan kuil manapun. 
Aliran Wutang mengajarkan teknik menerima pukulan dengan gaya lemah 
gemulai, ada gerak melingkar yang luwes seperti air mengalir dan menyerang 
dengan gerakan ujung yang tajam, dengan satu kepastian atau satu kali pukul 
untuk mengakhiri perlawanan. Aliran ini mempunyai dampak yang luas dalam

perkembangan beladiri di China, tersebar merata di seluruh China bagian utara, 
kemudian berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan. 
Banyak tokoh seni beladiri muncul di seluruh wilayah China dan 
menciptakan gaya serta alirannya masing-masing, gaya dan aliran tersebut 

dikembangkan menurut sifat dan kondisi lingkungan masing-masing. Bermacam
gaya dan aliran yang ada pada umumnya dapat dibagi menjadi dua aliran pada 
umumnya, yaitu Aliran Utara dan Selatan. Aliran Utara berkembang di wilayah 
China Utara bagian hulu Sungai Yang Tse, dengan sifat dan kondisi daerah 

pegunungan. Wilayah ini banyak orang yang terlibat perburuan binatang dan 
penebangan kayu sebagai sumber nafkah, oleh karena itu aliran ini lebih 

menekankan pada gerakan yang lincah dan penggunaan teknik tendangan. 
Aliran Selatan berasal dari daerah China Selatan bagian hilir Sungai Yang Tse,
beriklim sedang, banyak aliran sungai, dan masyarakat banyak yang mempunyai 

kegiatan perekonomian bercocok tanam, atau sebagai petani. Rakyat setempat 
cenderung bertubuh gempal, kuat dan lebih berkembang pada badan bagian 

atas karena bekerja di sawah dan mendayung perahu, hal ini dikarenakan
banyaknya aliran sungai sebagai jalur transportasi utama. Aliran ini lebih 
menekankan pada gaya melentur dan penggunaan teknik tangan serta kepala.
Selama peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli 

beladiri China melarikan diri ke negara lain agar terbebas dari penindasan dan 
pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu sebagai 
penguasa China saat itu. Akibatnya, ilmu beladiri tersebar ke berbagai negara 
lain seperti Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. 
Sampai abad ke-15 Kepulauan Okinawa masih terbagi menjadi 3 kerajaan dan

pada tahun 1470 Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan 
semua pulau di Kepulauan Okinawa dibawah kekuasaannya. Shin Sho sebagai
penguasa ke-2 dari golongan Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata 
tajam. Kemudian Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai 
Kepulauan Okinawa, tetapi larangan terhadap kepemilikan senjata tajam masih 
diberlakukan. Akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan 
keterampilan fisik mereka untuk membela diri.

Pada saat yang sama, ilmu beladiri China mulai diperkenalkan di 
Kepulauan Okinawa melalui para pengungsi China yang berdatangan. Pengaruh 
ilmu beladiri China sangat cepat berkembang di seluruh Kepulauan Okinawa. 
Melalui ketekunan dan kekerasan dalam berlatih, rakyat Okinawa berhasil 

mengembangkan sejenis gaya dan teknik perkelahian baru, yang akhirnya dapat 
melampaui sumber asli dari teknik-teknik setempat atau aliran yang berasal dari 
Okinawa itu sendiri, yaitu seni beladiri Okinawa-te (Tode atau Tote). Tode/Tote

atau te yang artinya tangan, merupakan suatu seni beladiri tangan kosong atau 
tanpa menggunakan senjata yang telah mengalami perkembangan selama 
berabad-abad di Okinawa. Peraturan pelarangan penggunaan senjata tajam 
masih tetap diberlakukan oleh Keluarga Satsuma dari Kagoshima setelah 

mereka memegang kendali pemerintahan atas Okinawa pada tahun 1609, 
bahkan keluarga itu juga melarang keras latihan-latihan Tote, sehingga 
menyebabkan latihan-latihan Tote, yang menjadi alat terakhir untuk membela 
diri, dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh rahasia. Orang Okinawa 

kemudian mengembangkan seni perkasa ini menjadi beladiri yang betul-betul 
mematikan dan dapat digunakan untuk membebaskan mereka dari penindasan

saat itu. Karena dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh rahasia hingga
ada keluarga yang tidak tahu jika di antara anggota keluarganya melakukan 
latihan beladiri ini. Keadaan seperti itu berlangsung hingga tahun 1905 ketika 
Sekolah biasa di Shuri dan Sekolah Menengah Pertama dari Propinsi, 

menetapkan Karate sebagai mata pelajaran resmi untuk Pendidikan Jasmani. 
Kekuatan yang membinasakan dari karate mulai dikenal di kalangan tertentu
dengan istilah Reimyo Tote (Karate Ajaib) dan Shimpi Tote (Karate penuh 
rahasia). Karena sifatnya yang penuh rahasia sehingga upaya untuk 
mempopulerkan pada masyarakat umum mengalami kesusahan.

Tahun 1921, Gichin Funakoshi (1886-1957), orang dari Suri, berhasil 
memperkenalkan beladiri Tote di Jepang. Peristiwa itu menandai dimulainya 
pengalaman baru beladiri Tote secara benar dan sistematis. Tahun 1929, Gichin 
Funakoshi mengambil langkah-langkah revolusioner dalam perjuangannya yang 
ulet dan pantang menyerah untuk mengubah Tote menjadi Karate-do, sesuai

karakter dan aksen masyarakat Jepang. Dengan demikian Tote atau Karate
telah mengalami perubahan dari segi penampilan maupun isinya. Teknik asli 
Okinawa menjadi suatu seni perkasa Jepang baru. Dari situ kemudian timbul 
istilah baru, yaitu “Kime” sebagai pengganti “Ikken Hisatsu” atau Kill with One 
Blow (sekali pukul roboh).

Pada era 1920-an dan permulaan tahun 1930-an, seni beladiri ini tambah 
disenangi oleh semua lapisan masyarakat di Jepang, antara lain ; pakar hukum, 
seniman, pengusaha dan tak terkecuali para pelajar atau mahasiswa. Mereka 
sangat tertarik dan bersemangat dalam mempelajari seni perkasa ini.
Populernya karate di kalangan pelajar/mahasiswa sangat menguntungkan bagi

perkembangan karate dan membantu merubah pandangan masyarakat dari 
karate ajaib dan penuh rahasia menjadi karate modern. Atas usahanya itu,
Gichin Funakoshi kemudian diberi gelar “Bapak Karate Modern”.
Masatoshi Nakayama, salah seorang murid Gichin Funakoshi, turut 

mempopulerkan beladiri ini. Dalam mengajarkan karate, beliau menggunakan 
metode yang sistematis sehingga dapat lebih diterima oleh nalar. Karate juga 
dapat dipertandingkan seperti olahraga lain dengan tetap tidak mengabaikan 
unsur beladirinya, asal dilakukan dengan benar. Dalam bukunya “The Best 
Karate”, beliau berpesan : “Bila suatu pertandingan karate diselenggarakan, 

hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan semangat yang benar, nafsu 
untuk memenangkan pertandingan semata-mata hanya akan menghasilkan 
ketidaksungguhan dalam mempelajari karate, sehingga menjadi buas dan lupa 
sikap hormat pada lawan”. Padahal sikap hormat itulah yang merupakan hal 
terpenting dalam setiap pertandingan karate-do. Menentukan siapa yang 

menang/kalah bukan merupakan tujuan akhir karate-do melainkan pembinaan 
mental melalui latihan-latihan tertentu sehingga seorang karate-ka mampu 
mengatasi segala rintangan hidup.
Secara harfiah Karate-do dapat diartikan sebagai berikut ; Kara = kosong, 
cakrawala, Te = tangan atau seluruh bagian tubuh yang mempunyai 

kemampuan, Do = jalan. Dengan demikian Karate-do dapat diartikan sebagai 
suatu taktik yang memungkinkan seseorang membela diri dengan tangan 
kosong tanpa senjata. Setiap anggota badan dilatih secara sistematis sehingga 
suatu saat dapat menjadi senjata yang ampuh dan sanggup menaklukan lawan 

dengan satu gerakan yang menentukan. Beladiri karate merupakan keturunan

dari ajaran yang bersumber agama Budha yang luhur. Oleh karena itu, orang 
yang belajar karate seharusnya rendah hati dan bersikap lembut, punya 
keyakinan, kekuatan dan percaya diri. Sekarang ini karate hampir mencapai titik 
puncak penyempurnaan dan penyebaran di seluruh belahan dunia. Bahkan di 
luar Jepang, di negara Eropa, Amerika dan Asia sudah menyamai Jepang dalam 
tingkat kemampuan bertandingnya, tak terkecuali Indonesia. 

Di Indonesia, karate masuk bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan 
dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air setelah 
menyelesaikan studinya di Jepang. Tahun 1963 beberapa mahasiswa Indonesia 
antara lain ; Baud AD Adikusumo, Muchtar dan Karyanto mendirikan Dojo di 

Jakarta. Merekalah yang pertama memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di 
Indonesia. Selanjutnya mereka membentuk wadah yang diberi nama PORKI.
Beberapa tahun kemudian berdatangan alumni Mahasiswa Indonesia dari 

Jepang seperti : Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi (salah satu 
pendiri Lemkari), Sabeth Muchsin (salah satu pendiri Inkai) dan Choirul Taman 
turut mengembangkan karate di tanah air. Di samping alumni Mahasiswa, orang-

orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka bisnis ikut pula memberi 
warna bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka antara lain : Matsusaki 
(Kushinryu-1966), Oyama (Kyokushinkai-1967), Ishi (Gojuryu-1969) dan Hayashi 
(Shitoryu-1971).
Di Indonesia, karate ternyata memperoleh banyak penggemar. Ini terlihat 
dari munculnya berbagai macam organisasi karate dengan berbagai macam 
aliran yang dianut oleh pendirinya masing-masing. Banyaknya perguruan karate
dengan berbagai macam aliran menyebabkan terjadi ketidakcocokan di antara

para tokoh tersebut dan menimbulkan perpecahan di tubuh PORKI. Akhirnya 
setelah adanya kesepakatan, para tokoh tersebut akhirnya bersatu kembali 
dalam upaya mengembangkan karate di tanah air, dan pada tahun 1972 
terbentuklah satu wadah organisasi karate baru yang bernama FORKI (Federasi 
Olahraga Karate-Do Indonesia). Sampai saat ini FORKI merupakan satu-
satunya wadah olahraga karate yang menjadi anggota KONI. FORKI terhimpun 
dari 25 perguruan dengan 8 aliran yang berwenang dan berkewajiban untuk 
mengelola serta meningkatkan prestasi karate di Indonesia. Perguruan-
perguruan karate tersebut adalah :

1. AMURA,

2. BKC (Bandung Karate Club), 

3. BLACK PANTHER, 

4 . FUNAKOSHI, 

5. GABDIKA SHITORYU (Gabungan Beladiri Karate-Do Shitoryu), 

6. GOJUKAI, 

7. GOJURYU ASS, 

8. GOKASI (Goju Ryu Karate-Do Shinbukan 
Seluruh Indonesia),

9. INKADO (Indonesia Karate-Do), 

10. INKAI (Institut 
Karate-Do Indonesia), 

11. KALA HITAM, 

12. KANDAGA PRANA, 

13. KEI SHIN 
KAN, 

14. KKNSI (Kesatuan karate-Do Naga Sakti Indonesia)¸ 

15. KKI (Kushin 
Ryu Karate-Do Indonesia¸ 

16. KYOKUSHINKAI (Kyokushin Karate-Do 
Indonesia), 

17. LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia), 

18. MKC (Medan 
Karate Club) sekarang menjadi INKANAS¸ 

19. PERKAINDO¸ 

20. PORBIKAWA¸ 

21. PORDIBYA, 

22. SHINDOKA SHI ROI TE, 

23. TAKO INDONESIA, 

24. WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia)
ETIKA DALAM SENI BELADIRI KARATE

“Jalan Seni Beladiri diawali dan diakhiri dengan kesopanan”



English ) 


ABSTRACT

Martial arts are known since the existence of human civilization, which at the time

it is used only to defend against animal interference

wild and surrounding nature. Now, in addition to self-defense,

martial arts are used as a tool for maintaining health, looking for achievements and

as a way of life. Karate-do is a mighty, martial art without weapons

which aims to overcome all forms of obstacles, which are achieved with

how to develop personality through certain exercises. From history

the origin of the birth of this martial art can be imagined how hard and through

severe obstacles to be able to reach the level of perfection or


success. As a communication tool and a place to interact with people

another, karate martial arts have ethics and courtesy that must be obeyed

and implemented by all members / people in it. The rules

play, ethics and manners contained in this martial art is made

based on the passion and philosophy inherited by people who are



give birth to it. True karate-ka always tries to be able to understand and

pervading every teaching and then including it in life

everyday as his life's path.

Keywords: History, Ethics, Karate Philosophy

KARATE DEVELOPMENT HISTORY


Martial arts has actually been known since humans exist, it can

seen from ancient relics, including: weapons

from stone, paintings on cave walls depicting battles

or fighting with wild animals using weapons such as spears,

stone axes, and arrows. At that time, martial arts is to maintain

yourself from the disturbance of wild animals or the natural surroundings. After humans

grow, disturbances arise not only from wild animals and nature

around it but also from humans themselves.

After Sidartha Gautama, the founder of Buddha died, his followers

received the mandate to develop Buddhism throughout the world.


Because of the difficulty in the terrain, the priests were equipped with martial arts. Around

5th century, a Buddhist priest from India named Bodhidharma

(Daruma Daishi), wanders to China to spread and correct

Buddhist teachings that were distorted at the time. After there is a difference understanding or

differing views in Buddhist teachings with Emperor Wu, Emperor of the Kingdom

At the time, Daruma Daishi then retreated to Shaolin Monastery

Tsu, in the Sung Mountains, south of Loyang, the capital of the Wei Kingdom.


Daruma Daishi continued his teaching of Buddhism at the monastery, which

then the forerunner to Zen teachings. Besides teaching religion,

he also gave a Manual on Physical Exercise to students

his student. The manual also teaches punch techniques, which are

named 18 Arhat. Starting from there the monastery is known as Shaolin

Chuan, a martial arts center in mainland China until now.


During the Sung Dynasty (920-1279 AD) a martial arts expert appeared

very famous, namely Chang Sang Feng (Thio Sam Hong), who was at first

studying martial arts at Shaolin Tsu, then seclusion on Mount Wutang

(Butong) and creates a typical fighting style with his person, who

named Debt Flow. The difference is that Shaolin Chuan is only practiced

in the Shaolin monastery by its priests, while the Wutang Flow


intended for lay people who have no ties to any temple.

Wutang flow teaches techniques to take punches with a weak force

graceful, there is a circular motion that is flexible like water flowing and attacking

with sharp edge movements, with one certainty or one hit

to end the resistance. This flow has a broad impact in


the development of martial arts in China, spread evenly throughout northern China,

later developed into Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, and Pakua-Chuan.

Many martial arts figures appeared in all regions of China and

creating their own style and flow, the style and flow


developed according to the nature and conditions of each environment. Various

existing styles and flows can generally be divided into two streams on

generally, namely the North and South Streams. The Northern Stream developed in the region

North China upstream of the Yang Tse River, with the nature and condition of the region

the mountains. This area has many people involved in animal hunting and

logging as a source of livelihood, therefore this flow is more


emphasizing agile movements and using kick techniques.

Southern Stream originates from the southern China region downstream of the Yang Tse River,

temperate climate, many streams, and many people who have


economic activities in farming, or as farmers. Local people

tend to be stocky, stronger and more developed in the body part


for working in the fields and rowing the boat, this is because

many rivers flow as the main transportation route. This flow is more

emphasizing the flexural style and use of hand and head techniques.

During the transition from the Ming Dynasty to the Ching Dynasty, a number of experts


Chinese martial arts fled to other countries to be free from oppression and

massacre committed by the Manchu people as

the rulers of China at that time. As a result, martial arts are spread to various countries

others such as Japan, Korea, Southeast Asia, and also the Okinawa Islands.

Until the 15th century the Okinawa Islands were still divided into 3 kingdoms and


in 1470 Youshi Sho of the Sashikianji group succeeded in uniting

all the islands of the Okinawa Islands are under his control. Shin Sho as

the 2nd ruler of the Sho group, confiscated and prohibited the use of weapons

sharp. Then the Shimazu Family from Kyushu Island successfully mastered

Okinawa Islands, but a ban on possession of sharp weapons is still

enforced. As a result, people can only rely on strength and

their physical skills to defend themselves.


At the same time, Chinese martial arts were introduced

Okinawa Islands through the Chinese refugees who arrived. Influence

Chinese martial arts are very fast developing throughout the Okinawa Islands.

Through perseverance and violence in training, the people of Okinawa succeed


develop a new kind of fighting style and technique, which finally got it

beyond the original sources of local techniques or streams originating from

Okinawa itself, which is Okinawa-te (Tode or Tote) martial arts. Tode / Tote


or te which means hand, is an empty-handed or martial arts

without using weapons that have undergone development during

centuries in Okinawa. Rules prohibiting the use of sharp weapons

is still enforced by the Satsuma Family from Kagoshima after


they assumed government control of Okinawa in 1609,

even the family also strictly forbids the Tote exercises, so

leads to Tote exercises, which are the last tool to defend

self, carried out clandestinely and secretly. Okinawan people


then developed this mighty art into a true martial arts

deadly and can be used to free them from oppression


at that time. Because it was done in secret and full of secrets

there are families who do not know if among their family members do

this martial arts practice. Such a situation lasted until 1905 when

Regular schools in Shuri and Junior High Schools from the Province,


establishing Karate as an official subject for Physical Education.

The destructive power of karate began to be known in certain circles

with the terms Reimyo Tote (Magic Karate) and Shimpi Tote (full Karate

secret). Because of its full confidential nature so the effort to

popularizing the general public in distress.


In 1921, Gichin Funakoshi (1886-1957), a person from Suri, succeeded

introducing Martial Tote in Japan. The event marked the start

Tote's new experience in a true and systematic manner. 1929, Gichin

Funakoshi took revolutionary steps in his struggle

tenacious and never give up to change the Tote into Karate-do, accordingly



the character and accent of Japanese society. Thus Tote or Karate

has changed in terms of appearance and contents. Original technique

Okinawa becomes a new Japanese mighty art. From there then arises

a new term, "Kime" instead of "Ikken Hisatsu" or Kill with One

Blow (one o'clock collapses).


In the 1920s and beginning of the 1930s, this martial art was added

loved by all levels of society in Japan, among others; legal expert,

artists, entrepreneurs and students are no exception. They

very interested and excited in learning this mighty art.

The popularity of karate among students is very beneficial


the development of karate and help change people's views from

Karate is magical and full of secrets to become modern karate. For his efforts,

Gichin Funakoshi was later given the title "Father of Modern Karate".

Masatoshi Nakayama, a student of Gichin Funakoshi, joined in


popularize this martial arts. In teaching karate, he uses

systematic method so that it can be more accepted by reason. Karate too

can be contested like other sports while not ignoring

element of self-defense, as long as it's done correctly. In his book "The Best

Karate ", he advised:" If a karate competition is held,


should be carried out in accordance with the true purpose and passion, lust

to win the game will only result

seriousness in learning karate, so it becomes wild and forgetful

respect for opponents ". Even though that attitude of respect is the thing

most important in every karate-do match. Determine who is


Win / lose is not the end goal of karate-do but rather coaching

mentally through certain exercises so that a karate-ka is able

overcome all obstacles of life.

Literally Karate-do can be interpreted as follows; Kara = empty,

horizon, Te = hand or all parts of the body that have


ability, Do = road. Thus Karate-do can be interpreted as

a tactic that allows one to defend oneself with a hand

empty without weapons. Each member of the body is systematically trained so that

one day can be a powerful weapon and able to conquer the opponent


with one decisive move. Karate martial is a descendant


from teachings that originate from noble Buddhism. Therefore, people

who learn karate should be humble and gentle, have

confidence, strength and confidence. Now karate is almost reaching the point

the pinnacle of improvement and distribution in all parts of the world. Even in

outside of Japan, in European countries, America and Asia have matched Japan within

level of competitiveness, Indonesia is no exception.


In Indonesia, karate entry is not carried by the Japanese army but rather

brought by Indonesian students who returned to their homeland after

completing her studies in Japan. In 1963 several Indonesian students

among others ; Baud AD Adikusumo, Muchtar and Karyanto established a Dojo in


Jakarta. It was they who first introduced karate (Shoto-kan flow) in

Indonesia. Then they formed a container called PORKI.

A few years later came Indonesian Students alumni from


Japan like: Setyo Haryono (founder of Gojukai), Anton Lesiangi (one of them

founder of Lemkari), Sabeth Muchsin (co-founder of Inkai) and Choirul Taman

participate in developing karate in the country. In addition to the Student alumni, people


Japanese people who come to Indonesia in the context of business also give

the color for the development of karate in Indonesia. They include: Matsusaki

(Kushinryu-1966), Oyama (Kyokushinkai-1967), Ishi (Gojuryu-1969) and Hayashi

(Shitoryu-1971).

In Indonesia, karate apparently gets a lot of fans. This looks

from the emergence of various karate organizations with various kinds

the flow adopted by their respective founders. The number of karate colleges

with various kinds of flow causing mismatch between


these figures and caused divisions within PORKI. Finally

after an agreement, the leaders finally reunited

in an effort to develop karate in the homeland, and in 1972

a new karate organization called FORKI (Federation) was formed

Karate-Do Sports Indonesia). Until now FORKI is one-

the only karate sports organization that is a member of KONI. FORKI gathered

from 25 colleges with 8 schools that are authorized and obliged to

manage and improve karate achievements in Indonesia. College-

Karate colleges are:

AMURA,


2. BKC (Bandung Karate Club),


3. BLACK PANTHER,



4 FUNAKOSHI,


5. GABDIKA SHITORYU (Combined Karate-Do Shitoryu),


6. GOJUKAI,


7. GOJURYU ASS,


8. GOKASI (Goju Ryu Karate-Do Shinbukan)

Throughout Indonesia),


9. INKADO (Indonesia Karate-Do),


10. INKAI (Institute

Karate-Do Indonesia),


11. WHEN BLACK,


12. KANDAGA PRANA,


13. KEI SHIN

KAN


14. KKNSI (Karate-Do Unity Naga Sakti Indonesia) ¸


15. KKI (Kushin

Ryu Karate-Do Indonesia¸


16. KYOKUSHINKAI (Kyokushin Karate-Do

Indonesia),


17. LEMKARI (Indonesian Karate-Do Institute),


18. MKC (Medan

Karate Club) is now INKANAS¸


19. PERKAINDO¸


20. PORBIKAWA¸


21. THEIR GUIDE,


22. SHINDOKA SHI ROI TE,


23. TAKO INDONESIA,


24. WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia)

ETHICS IN KARATE ARMY


"The Way of the Martial Arts begins and ends with politeness"
LihatTutup Komentar